Anugerah Terindah
بسم الله علي انفسنا ، بسم الله علي مشايخنا، بسم الله علي والدنا، بسم الله علي اولدنا، بسم الله علي ازواجنا، بسم الله علي كل حال، بسم الله ولا حول ولا قوه الا بالله اللي العظيم
ربنا ظلمنا انفسنا وإن لم تغفر لنا لنكننا من الخاسرين
“Natas, nitis, netes”. Artinya Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali.
Pertama, basyar ( البشر ).Disebutkan dalam Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an, bahwa istilah ini berasal dari kata dasar basyarah (البشرة ), artinya bagian permukaan kulit, sedangkan adamah ( الأدمة ) adalah bagian dalamnya. Manusia disebut dengan basyar karena kulit mereka lebih banyak terlihat di permukaan tubuhnya dibanding rambut, berbeda dengan hewan yang umumnya lebih banyak ditutupi bulu, rambut, dan wool. Dari kata dasar yang bermakna “kulit” ini pula muncul istilahmubasyarah ( المباشرة ), artinya persentuhan kulit dengan kulit secara langsung, dan bangsa Arab memakainya sebagai kiasan dari hubungan suami istri. Kabar gembira juga disebut denganbisyarah ( البشارة ) dan busyra ( البشرى), karena ketika seseorang bergembira maka darah menyebar ke seluruh kulitnya sehingga tampak nyata perubahannya, terutama pada wajah. Dengan demikian, ketika manusia disebutbasyar dalam bahasa Arab, yang dimaksud adalah entitas fisik yang makan, minum, berjalan di pasar, beranak-pinak, berubah dari kecil menjadi dewasa, dan akhirnya mati. Basyar adalah manusia secara biologis dan fisiologis; sebagai materi di alam raya ini. Ini pula inti gugatan kaum kafir kepada para Nabi yang dikirim kepada mereka, karena secara fisik mereka adalahbasyar, makhluk berbadan wadak seperti umatnya. Hanya saja, mereka mendapatkan wahyu dari Allah, dan inilah yang membuat mereka berbeda dari manusia lainnya. Kata basyar muncul 35 kali di dalam Al-Qur’an.
Kedua, ins ( الإنس ). Menurut Dr. ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu Syathi’ dalam Maqal Fil Insan, kata ini selalu mucul beriringan dengan kata jinn ( الجن ) di dalam Al-Qur’an, sebagai dua istilah yang saling berlawanan; dan jumlahnya ada 18 tempat. Secara bahasa, ins berarti jinak, akrab, ramah, menyenangkan; dan kesan ini berkebalikan dengan istilah jinnyang artinya “tertutup” atau “tersembunyi”, sehingga menimbulkan kesan liar, misterius, menakutkan. Kata ins juga merupakan lawan dari nufur ( النفور), yakni lari menjauh. Bagian dari seekor hewan yang menjadi tempat paling mudah ditunggangi, yakni punggung, disebut dengan insiyyu (إنسي ); demikian pula bagian belakang busur yang menghadap ke pemanah. Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa manusia disebut dengan ins karena mereka tidak bisa hidup tanpa saling akrab dan membantu satu sama lain; atau karena manusia cenderung akrab dengan segala sesuatu yang biasa dilakukannya. Jadi, istilah ins ini merujuk kepada karakter umum jenis manusia yang saling membantu, akrab, dan ramah. Manusia sebagai ins adalah “makhluk sosial” yang cenderung tinggal di keramaian, membentuk keluarga dan kelompok, bekerjasama, dst. Inilah fitrah manusia yang telah Allah tanamkan, berkebalikan dengan bangsa jin yang suka tempat-tempat sunyi, penyendiri, dan cenderung jahat. Jika kita membandingkan sifat-sifat alami manusia dengan sifat-sifat asasi jin – misalnya, yang dijelaskan Al-Qur’an dalam surah al-Jinn – maka kita akan memahami seberapa besar perbedaan diantara kedua makhluk ini, meskipun ada titik-titik persamaan diantara mereka.
Ketiga, insan ( الإنسان ). Analisis yang dilakukan Bintu Syathi’ terhadap penggunaan istilah ini di 65 tempat dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa – secara bahasa – insan memang memiliki akar yang sama dengan ins, namun apa yang ditunjuk olehnya bukan lagi karakter umum seperti sudah disebutkan diatas. Dalam Al-Qur’an, kata insan selalu bermakna kenaikan menuju tingkatan yang membuatnya cakap menjadi khalifah di muka bumi, serta sanggup memikul konsekuensitaklif dan amanah kemanusiaan. Sebab, ia telah diistimewakan dengan ilmu, bayan, akal, dantamyiz (kemampuan memilah). Kenyataan ini disertai dengan aneka rintangan yang pasti menghadangnya berupa ujian baik maupun buruk, fitnah lalai karena merasa kuat dan mampu, ditambah perasaan sebagai makhluk yang menempati posisi tertinggi di alam semesta sehingga bisa menyeretnya menuju kesombongan dan ujub. Perasaan inilah yang seringkali menjerumuskan manusia (insan) dan membuatnya lupa bahwa ia pada dasarnya makhluk yang lemah, yang sedang menempuh kehidupan dunia dari alam tak dikenal menuju alam gaib. Dengan kata lain, ketika disebut sebagaiinsan, maka yang dimaksud adalah kualitas-kualitas spesifik dan istimewa dalam diri manusia yang membuatnya layak menerima kekhilafahan, taklif, dan dilebihkan diatas malaikat. Pendeknya, manusia sebagai insan adalah makhluk yang secara sengaja didesain untuk mencicipi pahala dan siksa, karena telah dipersiapkan sedemikian rupa untuk menanggung taklif.
Keempat, naas ( الناس ). Dijelaskan dalam Lisanul ‘Arab, bahwa kata ini berasal dari nawasa ( نوس ), artinya bergerak, tidak menetap pada satu keadaan, bimbang. Aslinya adalahanas ( أناس ), lalu diringankan menjadi naas ( الناس ). Di dalam Al-Qur’an, istilah naas biasanya disebut secara tersendiri, atau menjadi kebalikan dari jinnah(bangsa jin), misalnya dalam surah an-Naas. Salah seorang raja Yaman ada yang digelari Dzu Nuwas, karena memiliki dua kepang/kuncir rambut yang bergerak-gerak di pundaknya, atau di punggungnya. Ranting pohon yang kecil dan mudah bergerak ditiup angin disebut dengan yanus ( ينوس ), dan bangsa Arab menyebut seseorang yang tidak bisa tenang/diam sebagainawwas ( نواس ). Banyak istilah-istilah lain yang berakar dari sini dan seluruhnya mengandung makna tidak tetap atau terus bergerak, seperti nuwwas (sesuatu yang digantung di langit-langit),nuwas (bekas jaring laba-laba yang telah lama ditinggalkan), nuwasi(setandan anggur yang panjang), dll. Menurut Bintu Syathi’, katanaas muncul sekitar 240 kali dalam Al-Qur’an, dan biasanya dipakai untuk menyebut spesies makhluk bernama “manusia” secara umum. Tampaknya, ketika manusia disebut dengan naas, yang ditunjuk adalah kecenderungan mereka untuk terus berubah, bergerak, tidak menetap pada satu keadaan, atau berkembang dan dinamis. Mungkin, ini pula yang menjadi rahasia mengapa istilah naasdiperlawankan dengan jinnah, sebab bangsa jin cenderung statis dan tidak berkembang kehidupannya. Wallahu a’lam.
Kelima, anam ( الأنام ). Menurut az-Zabidi dalam Tajul ‘Arus, bentuk dasarnya adalah anama ( أنم ), dan ada yang menyatakan pula bahwa aslinya adalah wanama ( ونم ), menjadi wanam ( ونام ), lalu diringankan menjadi anam ( أنام ), artinya: mengeluarkan suara dari dalam dirinya sendiri. Bangsa Arab menggunakan istilah ini untuk menunjuk semua makhluk yang ada di permukaan bumi, termasuk manusia. Di dalam Al-Qur’an, kata ini muncul sekali dalam surah ar-Rahman: 10, dan menurut paramufassir berarti bangsa jin ( الجن ) dan manusia ( الإنس ) sekaligus. Jadi, istilah ini sesungguhnya tidak spesifik menunjuk pada manusia saja.
Singkatnya, Al-Qur’an berusaha menjelaskan kepada kita misteri dan hakikat diri kita sendiri dengan menggambarkan sifat-sifat asasi yang sudah Allah tanamkan. Dapat kita mengerti dari sini bahwa manusia adalah makhluk yang secara fisik berbeda tampilannya dengan hewan pada umumnya, dan ia bisa berbicara atau mengeluarkan suara dari dalam dirinya sendiri. Sedangkan menurut fitrahnya, manusia digambarkan cenderung bersifat ramah, akrab, saling menolong, dinamis, terus bergerak, dan selalu memperbaiki diri, yang mana kualitas-kualitas inilah yang memungkinkan mereka untuk dibekali ilmu, bayan, akal, dan tamyiz yang membuat mereka cakap mengemban kekhilafahan,taklif, dan amanah-amanah lainnya di muka bumi
Adapun tujuan hidup adalah
Pertama: Hidup Adalah Ibadah
Pada intinya, arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan kita dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, zakat, dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan kita.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat:56)
Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:
“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.
Kedua: Hidup Adalah Ujian
Allah berfirman dalam QS Al Mulk [67] : 2 yang terjemahnya,
“(ALLAH) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Allah akan menguji manusia melalui hal-hal sebagai berikut sesuai dengan QS Al Baqarah [2]:155-156 sbb,
“dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.”
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)
Ketiga: Kehidupan di Akhirat Lebih Baik dibanding Kehidupan di Dunia
Dalam QS Ali ‘Imran [3]:14,
“dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).“
Yaa Allah, tak ada kehidupan selain kehidupan akhirat. (HR. Bukhari)
QS Adh Dhuha [93]:4,
“dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
Keempat: Hidup Adalah Sementara
Dalam QS Al Mu’min [40]:39, Allah berfirman,
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.“
Dalam QS Al Anbiyaa [21]:35,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.“
Itulah keempat inti pemahaman tentang Makna Hidup yang dipaparkan oleh Al-Qur’an. Mudah-mudahan usaha kita memahami makna hidup menjadikan hidup kita lebih berharga dan berguna.
Dan juga pada kondisi dimana kita diberi kekuatan untuk melakukan ibadah terhadap Allah, kita pun harus mensyukurinya karena fadhol yang teranugerahkan pada kita sehingga diberi kemudahan dan ketenangan dalam melakukan ibadah,
Sehingga kita selalu menikmati akan anugerah Allah SWT, dan apapun jika kita tidak memaknai hal hal yang terjadi pada kehidupan kita dengan kata "anugerah" kita akan selalu menyalah, pada sisi yang terjadi pada kehidupan kita, bahkan terkadang fatal sekali jika kita menyalahkan kehidupan ini, ingatlah kita adalah makhluk yang diciptakan, yang tidak punya kehendak apapun pada kehidupan ini, yang kita lakukan hanyalah berupaya berusaha berdoa bersyukur pada kondisi apapun, apapun itu selagi kita sudah menjalankannya sesuai dengan ritme perintah-NYA, aturan aturan yang sesuai yang di syariat-kan pada kita,
Dari apa yang terjabar diatasi, pengertian manusia dan tujuan hidup serta kehidupan, penulis lebih cenderung pada manusia anugerah yang diberi hidup-kehidupan, yang selau bersyukur pada kondisi apapun, kondisi diuji musibah tetap mengukuhkan hati untuk bersyukur, karena memang hidup adalah ujian dan bagaimana kita menyikapi pada ujian tersebut, Itu adalah anugerah terindah atas diri kita, dimana hati selalu terkontrol terjaga untuk bersyukur atas semua yg diberikan pada kita, diujikan pada kita, dianugerahkan pada kita, Semoga kita selalu dalam naungan fadhol minallah, dan penuh dengan rahmat-NyaAmiiin
بسم الله علي انفسنا ، بسم الله علي مشايخنا، بسم الله علي والدنا، بسم الله علي اولدنا، بسم الله علي ازواجنا، بسم الله علي كل حال، بسم الله ولا حول ولا قوه الا بالله اللي العظيم
ربنا ظلمنا انفسنا وإن لم تغفر لنا لنكننا من الخاسرين
“Natas, nitis, netes”. Artinya Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali.
“Aja mbedakake marang sapadha-padha”. Artinya Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia.
Kedua, ins ( الإنس ). Menurut Dr. ‘Aisyah ‘Abdurrahman Bintu Syathi’ dalam Maqal Fil Insan, kata ini selalu mucul beriringan dengan kata jinn ( الجن ) di dalam Al-Qur’an, sebagai dua istilah yang saling berlawanan; dan jumlahnya ada 18 tempat. Secara bahasa, ins berarti jinak, akrab, ramah, menyenangkan; dan kesan ini berkebalikan dengan istilah jinnyang artinya “tertutup” atau “tersembunyi”, sehingga menimbulkan kesan liar, misterius, menakutkan. Kata ins juga merupakan lawan dari nufur ( النفور), yakni lari menjauh. Bagian dari seekor hewan yang menjadi tempat paling mudah ditunggangi, yakni punggung, disebut dengan insiyyu (إنسي ); demikian pula bagian belakang busur yang menghadap ke pemanah. Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa manusia disebut dengan ins karena mereka tidak bisa hidup tanpa saling akrab dan membantu satu sama lain; atau karena manusia cenderung akrab dengan segala sesuatu yang biasa dilakukannya. Jadi, istilah ins ini merujuk kepada karakter umum jenis manusia yang saling membantu, akrab, dan ramah. Manusia sebagai ins adalah “makhluk sosial” yang cenderung tinggal di keramaian, membentuk keluarga dan kelompok, bekerjasama, dst. Inilah fitrah manusia yang telah Allah tanamkan, berkebalikan dengan bangsa jin yang suka tempat-tempat sunyi, penyendiri, dan cenderung jahat. Jika kita membandingkan sifat-sifat alami manusia dengan sifat-sifat asasi jin – misalnya, yang dijelaskan Al-Qur’an dalam surah al-Jinn – maka kita akan memahami seberapa besar perbedaan diantara kedua makhluk ini, meskipun ada titik-titik persamaan diantara mereka.
Ketiga, insan ( الإنسان ). Analisis yang dilakukan Bintu Syathi’ terhadap penggunaan istilah ini di 65 tempat dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa – secara bahasa – insan memang memiliki akar yang sama dengan ins, namun apa yang ditunjuk olehnya bukan lagi karakter umum seperti sudah disebutkan diatas. Dalam Al-Qur’an, kata insan selalu bermakna kenaikan menuju tingkatan yang membuatnya cakap menjadi khalifah di muka bumi, serta sanggup memikul konsekuensitaklif dan amanah kemanusiaan. Sebab, ia telah diistimewakan dengan ilmu, bayan, akal, dantamyiz (kemampuan memilah). Kenyataan ini disertai dengan aneka rintangan yang pasti menghadangnya berupa ujian baik maupun buruk, fitnah lalai karena merasa kuat dan mampu, ditambah perasaan sebagai makhluk yang menempati posisi tertinggi di alam semesta sehingga bisa menyeretnya menuju kesombongan dan ujub. Perasaan inilah yang seringkali menjerumuskan manusia (insan) dan membuatnya lupa bahwa ia pada dasarnya makhluk yang lemah, yang sedang menempuh kehidupan dunia dari alam tak dikenal menuju alam gaib. Dengan kata lain, ketika disebut sebagaiinsan, maka yang dimaksud adalah kualitas-kualitas spesifik dan istimewa dalam diri manusia yang membuatnya layak menerima kekhilafahan, taklif, dan dilebihkan diatas malaikat. Pendeknya, manusia sebagai insan adalah makhluk yang secara sengaja didesain untuk mencicipi pahala dan siksa, karena telah dipersiapkan sedemikian rupa untuk menanggung taklif.
Keempat, naas ( الناس ). Dijelaskan dalam Lisanul ‘Arab, bahwa kata ini berasal dari nawasa ( نوس ), artinya bergerak, tidak menetap pada satu keadaan, bimbang. Aslinya adalahanas ( أناس ), lalu diringankan menjadi naas ( الناس ). Di dalam Al-Qur’an, istilah naas biasanya disebut secara tersendiri, atau menjadi kebalikan dari jinnah(bangsa jin), misalnya dalam surah an-Naas. Salah seorang raja Yaman ada yang digelari Dzu Nuwas, karena memiliki dua kepang/kuncir rambut yang bergerak-gerak di pundaknya, atau di punggungnya. Ranting pohon yang kecil dan mudah bergerak ditiup angin disebut dengan yanus ( ينوس ), dan bangsa Arab menyebut seseorang yang tidak bisa tenang/diam sebagainawwas ( نواس ). Banyak istilah-istilah lain yang berakar dari sini dan seluruhnya mengandung makna tidak tetap atau terus bergerak, seperti nuwwas (sesuatu yang digantung di langit-langit),nuwas (bekas jaring laba-laba yang telah lama ditinggalkan), nuwasi(setandan anggur yang panjang), dll. Menurut Bintu Syathi’, katanaas muncul sekitar 240 kali dalam Al-Qur’an, dan biasanya dipakai untuk menyebut spesies makhluk bernama “manusia” secara umum. Tampaknya, ketika manusia disebut dengan naas, yang ditunjuk adalah kecenderungan mereka untuk terus berubah, bergerak, tidak menetap pada satu keadaan, atau berkembang dan dinamis. Mungkin, ini pula yang menjadi rahasia mengapa istilah naasdiperlawankan dengan jinnah, sebab bangsa jin cenderung statis dan tidak berkembang kehidupannya. Wallahu a’lam.
Kelima, anam ( الأنام ). Menurut az-Zabidi dalam Tajul ‘Arus, bentuk dasarnya adalah anama ( أنم ), dan ada yang menyatakan pula bahwa aslinya adalah wanama ( ونم ), menjadi wanam ( ونام ), lalu diringankan menjadi anam ( أنام ), artinya: mengeluarkan suara dari dalam dirinya sendiri. Bangsa Arab menggunakan istilah ini untuk menunjuk semua makhluk yang ada di permukaan bumi, termasuk manusia. Di dalam Al-Qur’an, kata ini muncul sekali dalam surah ar-Rahman: 10, dan menurut paramufassir berarti bangsa jin ( الجن ) dan manusia ( الإنس ) sekaligus. Jadi, istilah ini sesungguhnya tidak spesifik menunjuk pada manusia saja.
Singkatnya, Al-Qur’an berusaha menjelaskan kepada kita misteri dan hakikat diri kita sendiri dengan menggambarkan sifat-sifat asasi yang sudah Allah tanamkan. Dapat kita mengerti dari sini bahwa manusia adalah makhluk yang secara fisik berbeda tampilannya dengan hewan pada umumnya, dan ia bisa berbicara atau mengeluarkan suara dari dalam dirinya sendiri. Sedangkan menurut fitrahnya, manusia digambarkan cenderung bersifat ramah, akrab, saling menolong, dinamis, terus bergerak, dan selalu memperbaiki diri, yang mana kualitas-kualitas inilah yang memungkinkan mereka untuk dibekali ilmu, bayan, akal, dan tamyiz yang membuat mereka cakap mengemban kekhilafahan,taklif, dan amanah-amanah lainnya di muka bumi
Adapun tujuan hidup adalah
Pertama: Hidup Adalah Ibadah
Pada intinya, arti hidup dalam Islam ialah ibadah. Keberadaan kita dunia ini tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Makna ibadah yang dimaksud tentu saja pengertian ibadah yang benar, bukan berarti hanya shalat, puasa, zakat, dan haji saja, tetapi ibadah dalam setiap aspek kehidupan kita.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat:56)
Hadits riwayat Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ahmad:
“Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya atau anak yang shalih yang mendo’akannya”.
Kedua: Hidup Adalah Ujian
Allah berfirman dalam QS Al Mulk [67] : 2 yang terjemahnya,
“(ALLAH) yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Allah akan menguji manusia melalui hal-hal sebagai berikut sesuai dengan QS Al Baqarah [2]:155-156 sbb,
“dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.”
Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ‘Azza wajalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barangsiapa murka maka baginya murka Allah. (HR. Tirmidzi)
Ketiga: Kehidupan di Akhirat Lebih Baik dibanding Kehidupan di Dunia
Dalam QS Ali ‘Imran [3]:14,
“dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).“
Yaa Allah, tak ada kehidupan selain kehidupan akhirat. (HR. Bukhari)
QS Adh Dhuha [93]:4,
“dan sesungguhnya hari kemudian (akhirat) itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).”
Keempat: Hidup Adalah Sementara
Dalam QS Al Mu’min [40]:39, Allah berfirman,
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.“
Dalam QS Al Anbiyaa [21]:35,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.“
Itulah keempat inti pemahaman tentang Makna Hidup yang dipaparkan oleh Al-Qur’an. Mudah-mudahan usaha kita memahami makna hidup menjadikan hidup kita lebih berharga dan berguna.
Dan juga pada kondisi dimana kita diberi kekuatan untuk melakukan ibadah terhadap Allah, kita pun harus mensyukurinya karena fadhol yang teranugerahkan pada kita sehingga diberi kemudahan dan ketenangan dalam melakukan ibadah,
Sehingga kita selalu menikmati akan anugerah Allah SWT, dan apapun jika kita tidak memaknai hal hal yang terjadi pada kehidupan kita dengan kata "anugerah" kita akan selalu menyalah, pada sisi yang terjadi pada kehidupan kita, bahkan terkadang fatal sekali jika kita menyalahkan kehidupan ini, ingatlah kita adalah makhluk yang diciptakan, yang tidak punya kehendak apapun pada kehidupan ini, yang kita lakukan hanyalah berupaya berusaha berdoa bersyukur pada kondisi apapun, apapun itu selagi kita sudah menjalankannya sesuai dengan ritme perintah-NYA, aturan aturan yang sesuai yang di syariat-kan pada kita,
Dari apa yang terjabar diatasi, pengertian manusia dan tujuan hidup serta kehidupan, penulis lebih cenderung pada manusia anugerah yang diberi hidup-kehidupan, yang selau bersyukur pada kondisi apapun, kondisi diuji musibah tetap mengukuhkan hati untuk bersyukur, karena memang hidup adalah ujian dan bagaimana kita menyikapi pada ujian tersebut, Itu adalah anugerah terindah atas diri kita, dimana hati selalu terkontrol terjaga untuk bersyukur atas semua yg diberikan pada kita, diujikan pada kita, dianugerahkan pada kita, Semoga kita selalu dalam naungan fadhol minallah, dan penuh dengan rahmat-NyaAmiiin

EmoticonEmoticon